Friday, November 22, 2013

GOTONG ROYONG ? SIAPA TAKUT ?


Ali berlari-lari kecil mengelilingi empang di dekat rumah nenek. Ia tampak gembira sekali. Maklum, ini adalah liburan pertamanya ke kampung. Karena selama ini, kalau ia rindu dengan kakek dan nenek, maka mereka berdualah yang akan datang ke Jakarta.
Ketika pertama kali sampai di kampung, Ali kelihatan bingung. Ia tak menyangka kalau gunung itu  bisa lebih tinggi daripada gedung-gedung bertingkat di Jakarta. “Hebat ya Kek, gunung yang itu bisa menahan awan” ujarnya takjub.
Liburan kali ini Ali tidak ditemani oleh Mama dan Papa. Mereka  hanya datang untuk mengantar saja, selanjutnya mereka pulang ke Jakarta karena banyak pekerjaan. “Ali harus jadi anak yang rajin ya” pesan Mama sebelum pulang. “iya, dan jangan sampai membuat kakek nenek khawatir” tambah Ayah. Ali mengangguk, ia sudah hafal betul nasehat itu.
Setelah mengantar kepergian Mama dan Papa. Ali diajak oleh Kakek ke pasar hewan tradisional. Aroma pasar dan hewan-hewan yang ada disana tidak mengurangi rasa takjub Ali, “Kakek, hewan-hewannya banyak yah” teriaknya sambil berlari-lari. Setelah cukup lama mengelilingi pasar, mereka akhirnya pulang. Ditangan Ali kini ada dua ekor anak ayam, kakek yang membelikannya untuk Ali.
Besok rencananya Ali akan di ajak Kakek mendaki bukit. Namun sesampainya di rumah, kakek ternyata mendapat undangan dari pak RT untuk ikut gotong royong yang diadakan besok pagi. Itu artinya rencana semula mereka harus dibatalkan.
Ali jelas kecewa berat. Bayangannya untuk mendaki bukit pupus. Ia mengadu  pada Nenek.”nek, apa sih gotong royong itu ? kok Kakek bela-belain pergi gotong royong daripada ngajak aku jalan-jalan ?” tanyanya.
Nenek kemudian meletakkan beberapa pakaian yang sudah dilipatnya ke dalam lemari.
“sini, duduk disamping Nenek” ujarnya lembut.
Ali mengikuti perintah Nenek dengan enggan.
“Ali, gotong royong itu maksudnya sama dengan kerja sama” kata nenek memulai penjelasannya.
“kerja sama ?”
“benar, gotong royong itu artinya melakukan suatu pekerjaan secara bersama-sama”
Kening Ali berkerut “apa enaknya nek ?”
Nenek tersenyum “begini ya Ali, kalau kita mengerjakan suatu pekerjaan dengan bersama-sama maka pekerjaan itu akan  cepat selesainya” Nenek sengaja berhenti agar Ali mampu mencerna penjelasannya.
“tapi apa untungnya bagi kita Nek ? kan capek ?”
Nenek menatap Ali, ia kagum pada ke kritisan cucunya yang satu ini. “untungnya gotong royong?  Banyak, salah satunya hati kita menjadi puas” jawab Nenek.
Ali tak mengerti “puas..? memangnya kita dibayar Nek ?”
“Puas disini artinya hati kita menjadi tentram, kalau kita ikut gotong royong itu artinya kita menolong orang, dan menolong orang tentu dapat pahala kan ?”
Ali mengangguk
“selain itu dengan ikut gotong royong rasa kekeluargaan kita juga akan meningkat, karena sewaktu gotong royong kita akan berkumpul dengan warga yang lain” jelas Nenek panjang lebar.
Ali mulai mengerti, “tapi kenapa nggak pake kuli bangunan aja Nek ? kan enak, nggak susah” usulnya.
Nenek menggeleng,”nah, itulah yang membedakan orang Kota dan Kampung.Kamu ingat nggak ?, para pejuang kita dulu ketika mereka memperjuangkan kemerdekaan apakah digaji ? tidak, mereka dengan ikhlaas melakukannya. Karena itulah kita bisa merdeka sekarang”
Kepala Ali mengangguk-angguk, ia merasa puas dengan jawaban Nenek.

Keesokan paginya, dengan membawa  sebuah skop kecil, Ali berangkat bersama Kakek. Hari itu seluruh warga  gotong royong membersihkan kampung. Mau yang tua, muda, laki-laki atau perempuan semuanya turun tangan membersihkan kampung.
Ali bersama anak-anak yang sebaya dengannya mendapat jatah membersihkan Musholla. Tak tampak rasa kesal dan menyesal di wajahnya. Ia benar-benar gembira, gotong-royong itu ternyata asyik, tidak seperti apa yang dibayangkan sebelumnya.
Siang harinya kondisi kampung jadi agak sedikit lenggang, tak ada lagi tumbuhan-tumbuh liar di pinggir jalan. Batu-batu yang berserakan pun kini sudah di tata sedemikian rupa. Pokoknya sekarang kampung kakek sudah benar-benar bersih.
Sepiring pisang goreng dan secangkir teh begitiu nikmat terasa. Ali yang duduk disamping kakek tak menyadari sudah menghabiskan empat potong pisang goreng.padahal sewaktu di Jakarta ia tak pernah suka dengan pisang goreng.
“ternyata pisang goreng di kampung lebih enak” ujarnya pada Kakek.
 “ha..,ha.. itu sih karena kamu kelaparan” jawab kakek tak bis menahan tawanya.
Orang-orang yang berada di dekatnya pun tersenyum

Begitu sampai dirumah, Ali langsung mencari Nenek.
“Nenek, sekarang aku tahu kenapa Kakek suka ikut gotong royong. Ternyata gotong royong itu seru” kata Ali pada nenek ketika baru bertemu.
“tuh kan, apa Nenek bilang”
Ali mengangguk “pokoknya besok sepulang Ali kejakarta, akan Ali ajak teman-teman gotong royong” janji Ali bersemangat.
Nenek mengacungkan jempolnya tanda setuju, “tapi gotong royong apa dulu ?” tanya Nenek.
“Misalnya nanti ada ujian atau ulangan, aku akan ajak teman-teman gotong royong mengerjakannya” jawab Ali bangga.

“Hah…??!” Nenek bengong.

No comments:

Post a Comment